May Day

0

Solidaritas.net – Mendekati akhir bulan Januari 2015, bagian dari periode perlawanan buruh untuk memperjuangkan kenaikan upah melalui mekanisme UMK/UMP yang setidaknya telah dimulai sejak bulan Agustus 2014 saat sidang Dewan Pengupahan pertama, pembicaraan mengenai peringatan Hari Buruh Internasional atau dikenal dengan May Day yang jatuh pada tanggal 1 Mei mulai marak di kalangan buruh.

Sejarah Hari Buruh Internasional

May day
Foto ilustrasi: Tuntutan KASBI pada May Day 2014.

Dilansir dari Wikipedia.org, peringatan hari buruh internasional ini sendiri dilatarbelakangi perjuangan kaum buruh di abad ke-19 untuk menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari. Pada abad tersebut, bekerja selama 18 sampai 20 jam sehari merupakan kenyataan yang harus dihadapi oleh kaum buruh.

Perjuangan menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari ini diawali oleh kaum buruh di Amerika Serikat. Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, puluhan ribu buruh di kota Chicago menggelar demonstrasi yang dalam waktu beberapa hari berubah menjadi pemogokan umum hingga membuat puluhan ribu pabrik terpaksa tutup.

Pada tanggal 4 Mei 1886, pemerintah merespon dengan membubarkan paksa aksi kaum buruh dengan menembaki para buruh hingga menimbulkan banyak korban buruh yang tewas tertembak. Insiden ini terjadi di Haymarket, Chicago, yang kemudian menimbulkan reaksi protes keras dari kaum buruh di negara-negara lain.

Pada tahun 4 Juli 1989, dalam pertemuan kaum buruh dari seluruh penjuru dunia di Paris, Kongres Internasionale Kedua mengeluarkan resolusi yang berbunyi :

“Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.

May Day di Indonesia

Dilansir dari Berdikari Online, Indonesia mulai memperingati hari buruh internasional atau May Day ini di tahun 1918, dilaksanakan di Surabaya oleh ratusan anggota Serikat Buruh Kung Tang Hwee yang berpusat di Shanghai.

Sejak 1918 hingga 1926, gerakan buruh di Indonesia secara rutin menyelenggarakan peringatan May Day dengan demonstrasi maupun pemogokan-pemogokan yang menuntut perbaikan upah, pengurangan jam kerja hingga persoalan PHK.

Setelah tahun 1926 dengan meletusnya pemberontakan bersenjata melawan kekuasaan kolonial Belanda, peringatan May Day sulit untuk dilaksanakan karena larangan dari pemerintah kolonial waktu itu. Hingga setelah kemerdekaan Indonesia, di tahun 1946 peringatan May Day kembali digelar kaum buruh, bahkan pemerintah Indonesia mengeluarkan UU Kerja no. 12 tahun 1948 yang mengesahkan tanggal 1 Mei sebagai hari buruh dan libur nasional.

Dilansir dari Wikipedia.org, sejak pemerintahan kontra-revolusioner Orde Baru berkuasa, peringatan hari buruh internasional atau May Day kembali dilarang, bahkan dianggap sebagai gerakan subversif karena dianggap bagian dari aktivitas komunis dan dikaitkan dengan peristiwa G.30S di tahun 1965. Suatu penilaian yang sepenuhnya salah mengingat banyak negara di dunia yang non-komunis pun menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari buruh dan libur nasional di negaranya. Sesungguhnya hanyalah alasan yang dimunculkan oleh rezim Orde Baru untuk menghancurkan gerakan buruh, terbukti sepanjang Orde Baru berkuasa gerakan buruh selalu ditindas dan dibungkam.

Usaha untuk menggelar kembali peringatan hari buruh dimulai era tahun 1990-an dan kemudian setelah kejatuhan rezim militeristik Orde Baru, peringatan hari buruh internasional atau May Day ini kembali secara rutin digelar oleh gerakan buruh di Indonesia.

Pada tanggal 1 Mei 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai Hari Libur Nasional yang mulai berlaku pada 2014. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kebangkitan gerakan buruh pada tahun 2012 yang menuntut penghapusan outsourcing dan penolakan terhadap upah murah.

Berkaca dari latar belakang sejarahnya, May Day adalah momentum persatuan bagi gerakan buruh untuk memobilisasi massa dan menyuarakan tuntutan terhadap perbaikan kesejahteraan kaum buruh secara lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga hingga di dunia internasional. Bukan sekedar perayaan (fiesta) yang justru menghilangkan esensi dari gerakan buruh yang memiliki tanggung jawab sejarah sebagai tenaga penggerak perubahan untuk kesejahteraan rakyat.

Foto ilustrasi: Tuntutan KASBI pada May Day 2014.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *