Memotivasi Pekerja Agar Komitmen Bekerja

0
Ilustrasi pekerja. Sumber foto: Pixabay.com / user: life-of-pix-364018

Memotivasi pekerja agar berkomitmen dalam bekerja adalah salah satu upaya untuk meningkatkan produktifitas dalam suatu bidang usaha. Memang tidak mudah, tetapi langkah ini harus terus dilakukan demi kemajuan usaha. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan motivasi kerja, apa yang menyebabkan terjadi penurunan motivasi kerja, lalu apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi dalam bekerja ?  Simak ulasannya sampai akhir artikel ini.

Arti Motivasi dan Demotivasi Kerja

Sebagai seorang pekerja tentu pernah mengalami penurunan performa dalam bekerja. Tidak pandang bulu, dalam jabatan dan dalam posisi apapun pasti pernah merasakannya. Hari demi hari serasa lebih lama durasi jam kerjanya. Mau melakukan apapun pasti terasa berat. Bagi suatu organisasi perusahaan hal ini tentu akan membahayakan.

Pengertian Motivasi Kerja

Motivasi (Bhs. Inggris, motivation) berasal dari bahasa Latin, yaitu movere yang artinya “menggerakkan” (move). Sedangkan untuk pengertian motivasi dalam perspektif dunia kerja sudah banyak ahli psikologi industri yang mendeskripsikan. Tentu para ahli tersebut melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Namun semuanya mengerucut pada kata, daya gerak.

Bila disimpulkan, motivasi kerja adalah daya penggerak yang dapat menciptakan kegairahan dalam bekerja dan dapat membangkitkan semangat kerja yang pada akhirnya bisa memberikan kontribusi lebih pada organisasi kerjanya. Dengan demikian tujuan organisasi pekerjaan dalam hal produktifitas, efektifitas dan efisiensi dapat tercapai dengan mudah karena adanya motivasi yang dimiliki pekerja.

Pengertian Demotivasi Kerja

Berkebalikan dengan motivasi kerja, pengertian demotivasi kerja adalah penurunan hingga hilangnya daya penggerak yang mengakibatkan berkurangnya kegairahan dan semangat dalam bekerja. Kondisi seperti ini yang dapat menurunkan produktifitas dalam suatu organisasi kerja.

Dari dua uraian di atas sudah jelas bahwa motivasi dalam pekerjaan sangat penting dalam usaha untuk meningkatkan produktifitas organisasi pekerjaan. Adalah hal yang wajar dan menjadi suatu keharusan apabila organisasi kerja berusaha untuk meminimalkan munculnya demotivasi kerja di lingkungannya.

Penyebab Terjadi Penurunan Motivasi Kerja

Agar bisa menumbuhkan motivasi kerja yang tinggi, perusahaan dan pekerja harus instropeksi diri apa saja yang bisa menyebabkan munculnya demotivasi. Dari berbagai pengalaman dan realita di dunia kerja ada beberapa hal yang menjadi sebab terjadinya demotivasi, yaitu ;

  • Gaji yang tidak sepadan dengan beban pekerjaan. Banyak terjadi pekerja pada awalnya bersedia menerima pekerjaan dengan gaji tertentu dan dengan beban pekerjaan tertentu pula. Dalam perjalanannya, perusahaan menambahkan beban pekerjaan dengan memberikan tugas dan tanggung jawab tambahan secara perlahan yang tidak diimbangi dengan bertambahnya gaji. Atau biasa juga terjadi ada beban pekerjaan diluar jam kerja yang tidak seimbang atau tidak sesuai dengan ketentuan dalam penggajiannya. Belum lagi kompensasi-kompensasi lain yang seharusnya bisa diberikan kepada pekerja namun tidak diberikan ke yang bersangkutan. Misalnya ; pekerjaan di luar kota/daerah, kerja lembur dan sebagainya.
  • Jenjang karir yang tidak jelas. Kondisi ini banyak terjadi di perusahaan-perusahaan yang penataan manajemennya masih semi profesional. Struktur organisasi yang sering berubah, apalagi bila ada pimpinan yang baru bergabung lalu bisa mengendalikan organisasi kerja secara langsung. Ketidakjelasan ini juga bisa disebabkan karena tidak adanya evaluasi dan sistem kompetensi yang baik dalam organisasi perusahaan.
  • Lingkungan kerja tidak nyaman. Maksud dari ketidaknyamanan ini lebih ke arah budaya kerja yang mempengaruhi lingkungan kerja. Hubungan yang tidak baik dengan sesama pekerja dalam satu bidang, persaingan yang tidak sehat antar pekerja, berlomba-lomba menampilkan yang terbaik hanya saat dilihat oleh atasan, memberikan informasi atau laporan yang asal pimpinan senang dan sebagainya. Budaya-budaya semacam ini bila ada pembiaran akan membuat lingkungan kerja tidak nyaman.
  • Hubungan dengan atasan tidak baik. Ini sering terjadi karena adanya perbedaan prinsip, perbedaan cara pandang, sikap dan tutur kata yang bisa menyinggung perasaan, tidak diterimanya pendapat pekerja oleh atasan dan sebagainya. Belum lagi bila ada unsur subyektifitas atau suka dan tidak suka secara personal, baik karena masalah di pekerjaan atau karena ada masalah di luar pekerjaan. Penyebab-penyebab itu tentu akan menjadi demotivasi tersendiri terutama bagi pekerja.
  • Perubahan sistem kerja. Manusia mempunyai kecenderungan akan tetap bertahan dalam kondisi yang nyaman. Meskipun tingkat kenyamanan ini bervariatif, namun pada umumnya bila ada perubahan terhadap kenyamanan yang selama ini diterima maka secara spontan manusia akan meresponnya dengan banyak ekspresi. Misalnya saja perusahaan mengeluarkan kebijakan pengetatan penggunaan biaya-biaya usaha. Tidak bisa dipungkiri kebijakan tersebut pasti akan menimbulkan demotivasi. Pekerja merasa kebijakan baru tersebut akan mengekang aktivitas pekerjaannya.
  • Kondisi perusahaan lesu. Tidak selamanya suatu usaha akan terus berkembang. Ada kalanya terjadi penurunan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kelesuan produknya. Dalam masa seperti itu para pekerja terbawa situasi. Kelesuan membuat produktifitas menurun sehingga aktifitas pekerjaan juga menurun. Inilah yang membuat pekerja masuk dalam kondisi demotivasi. Apalagi bila kelesuan itu berlangsung lama.
  • Ketidaksesuaian penempatan kerja. Dalam kondisi tertentu suatu perusahaan biasa melakukan rolling Atau bisa juga karena kebutuhan dan efisiensi maka perusahaan akan lebih mengoptimalkan sumber daya yang ada pada posisi yang sedang dibutuhkan. Hal ini terkadang menyebabkan ada ketidaksesuaian antara posisi atau bagian yang dikerjakan dengan kemampuan, keahlian dan ketrampilan yang dimiliki pekerja. Terlepas dari faktor internal dalam diri pekerja, hal ini membuat pekerja kehilangan semangat dalam bekerja. Semua beban pekerjaan akan dilakukan dengan setengah hati.
  • Tidak adanya penghargaan. Tuntutan pekerjaan yang tinggi terkadang mengabaikan hal yang manusiawi, yaitu penghargaan. Ketika tuntutan tinggi tapi tidak dimbangi dengan apresiasi maka pekerja akan merasa seperti robot. Apresiasi ini tidak hanya dalam bentuk gaji tapi juga bisa dalam bentuk lain yang pada intinya dapat membuat pekerja merasa dibutuhkan, diakui dan dihargai. Bila ini jarang dilakukan atau bahkan tidak pernah dilakukan sama sekali maka dalam diri pekerja pasti akan muncul demotivasi.
  • Diskriminasi pekerja. Secara organisasi pekerjaan tidak ada perusahaan yang terang-terangan mendiskriminasi pekerja. Juga tidak pernah ada yang menuliskan kebijakan-kebijakan perusahaan yang diskriminatif. Pola kepemimpinan dan kebijakan yang tidak tertulislah yang terkadang secara tidak langsung membuat suasana diskriminatif dalam organisasi kerja. Diskriminasi ini bisa atas dasar suku, agama, ras, golongan, daerah asal, pendidikan terakhir, asal kelulusan dan sebagainya. Ketika hal ini dibiarkan maka lambat laun pekerja akan merasa terkotak-kotak dan sangat mungkin akan muncul demotivasi dalam dirinya di pekerjaan.
  • Internal pekerja. Manusia diciptakan penuh dengan keberagaman, termasuk dalam hal Tidak semua pekerja mampu untuk menerima beban kerja yang sama. Cara menyikapi kebijakan dan beban kerja juga berbeda. Ketika dalam diri pekerja lebih dominan punya attitude yang negatif, maka akan membawa pekerja itu ke demotivasi atas dirinya sendiri. Contohnya adalah ; kemalasan, kedisiplinan, komunikasi, emosi dan sebagainya yang ada dalam dirinya sendiri.

Cara Meningkatkan Motivasi Pekerja

Setelah menggali penyebab terjadinya demotivasi, pemangku kebijakan dalam perusahaan dan pekerja seharusnya bisa bangkit lagi dengan berbagai cara untuk memotivasi agar produktifitas dalam pekerjaan kembali bergairah dan bahkan bisa lebih meningkat. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan motivasi kerja tersebut, baik oleh perusahaan maupun pekerja sendiri adalah sebagai barikut ;

Meningkatkan Motivasi Kerja Dari Sisi Perusahaan

  • Menetapkan target pekerjaan yang jelas. Dalam pekerjaan seharusnya ada target waktu dan kapasitas yang jelas. Dengan adanya target waktu maka secara tidak langsung pekerja akan lebih fokus dalam bekerja. Dari sisi pekerja pun akan lebih bersemangat untuk mencapai target karena ada nilai kebanggaan dalam diri pekerja.
  • Memberikan penghargaan. Karena dengan adanya penghargaan maka akan muncul kebanggan dan merasa lebih diakui dan diperhatikan oleh perusahaan. Pemberian penghargaan ini tidak hanya dalam segi materi saja, tetapi pujian dan apresiasi kepada pekerja juga mereka butuhkan. Penghargaan yang diberikan kepada pekerja tentu akan semakin meningkatkan kebanggaan pekerja pada perusahaan dimana di bekerja.
  • Penataan organisasi dan gaji yang terstruktur. Jenjang karir yang jelas dan terstruktur bisa membuat pekerja bersemangat. Karir yang terstruktur rapi apalagi dengan sistem kompetensi yang baik akan selalu diimbangi dengan penataan gaji dan komponennya yang baik pula. Komponen gaji yang jelas dan transparan membuat pekerja lebih yakin akan tugas dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan, meskipun sebenarnya melebihi beban pekerjaan yang disepakati dari awal.
  • Kepemimpinan yang handal. Pola kepemimpinan dalam cara mengorganisir perusahaan akan sangat berpengaruh pada mental dan psikis pekerja. Pemimpin yang perhatian dan peduli terhadap pekerja, tanpa mengabaikan tugas dan tanggungjawabnya akan lebih membuat nyaman pekerja dalam menjalankan pekerjaannya.
  • Memberi ruang berekspresi dan berkreasi. Bagaimanapun pekerja adalah manusia yang tetap membutuhkan ruang untuk berekspresi dan berkreasi. Oleh karena itu akan lebih baik bila perusahaan membuka ruang itu dengan batasan-batasan tertentu. Ada kesempatan berdialog, kesempatan berinteraksi dengan bidang lain, mengadakan kegiatan rekreasi keluarga dan sebagainya.

Memotivasi Dari Dalam Pekerja

  • Tetapkan kembali tujuan kerja. Bekerja bukanlah mengisi waktu kosong. Bekerja adalah salah satu kewajiban manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Terlebih lagi bagi yang sudah berkeluarga. Tuntutan hidup juga akan menuntut manusia untuk bekerja dengan baik dan semakin baik. Kembalikan mindset itu ketika demotivasi datang menghampiri.
  • Berpikir positif, tetapi bukan toxic positivity. Pekerjaan adalah  sesuatu yang harus disyukuri di tengah orang lain yang kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Jika ada kesulitan dalam pekerjaan yang menurunkan motivasi, berpikir positif dan berusaha mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Perlu diingat berpikir positif jangan dilakukan berlebihan agar tidak berkembang menjadi toxic positivity, yang mengabaikan fakta kondisi kerja yang buruk. Tetapkan batas toleransi, jadikan aturan yang ada sebagai acuan.
  • Mencintai pekerjaan. Kata-kata ini sederhana namun sulit untuk dilaksanakan. Tetapi memang ada nilai-nilai kebenaran di dalamnya. Pekerjaan harus dijadikan sebagai martabat, karena penghasilan yang didapatkan dari pekerja memiliki makna dari hasil usaha sendiri. Bekerja sebaik-baiknya adalah bentuk dari kecintaan terhadap pekerjaan.
  • Perkaya pengalaman. Ketika diberi tugas dan tanggung jawab yang bukan spesialisasinya, hendaknya segera mengubah pola pikir. Dengan mengerjakan hal yang baru sebenarnya adalah suatu tantangan tersendiri untuk semakin belajar mengembangkan diri. Semakin banyak hal baru juga akan membuat semakin kaya pengalaman sesorang. Dengan demikian maka orang tersebut akan semakin lebih bijak dalam menyikapi kehidupan.
  • Kegiatan refreshing dan rekreasi. Sempatkan waktu untuk menyenangkan diri sendiri dengan kegiatan yang bermanfaat. Refreshing bersama keluarga, berolah raga sesuai kebisaannya dan berkreasi sesuai hobi adalah salah cara untuk menyegarkan kembali motivasi kerja. Untuk itu, pekerja dapat menggunakan hak istirahat atau cutinya. Bagaimana hubungan antara cuti dengan motivasi kerja? Dapat dibaca dalam artikel Cuti Panjang Mampu Dongkrak Motivasi dan Produktivitas Kerja.

***

Sumber :

  • Munandar, A.S. (2001). Psikologi industri dan organisasi, Depok: UI Press.
  • Jewell, L.N, Siegall, M. (1998). Psikologi Industri/Organisasi Modern. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Arcan.
  • 2011. Tata Kerja dan Produktifitas Kerja. Bandung: Penerbit Mandar Maju.
  • Sutrisno, Edy. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
  • Winarta, Hendra. 2016. Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik dan Non Fisik Terhadap Motivasi Kerja Karyawan (Studi Pada Karyawan Hotel Atria & Konferensi Malang). Jurnal. Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.
  • Rezita, Revi. 2012. Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Motivasi Kerja Karyawan di Bank Jatim Cabang Utama Surabaya. Jurnal. Fakultas Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Surabaya.
  • UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
Tulisan yang dimuat pada kategori BLOG menjadi tanggung jawab penulis.
* Ingin bergabung menjadi anggota serikat buruh? Hubungi FSEDAR di WhatsApp: +62 877-8801-2740
** Lihat cara berkontribusi di Solidaritas.net di Kontribusi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *