Mencari Adik Saya di Kampus yang Tersapu Tsunami

Pada 28 Oktober 2018 sekitar pukul 16:30, gempa mengguncang kota Palu dengan kekuatan 7,4 SR. Fenomena itu spontan membuat kepanikan seluruh orang bermacam macam untuk menyelamatkan diri. Saat itu situasi di komplek tempatku tinggal listriknya tiba-tiba padam serentak di semua tempat.

Orang-orang lari berhamburan keluar rumah walaupun dengan terjatuh-jatuh dan merangkak-rangkak. Manusia tak bisa berlari atau berjalan dengan normal karena guncangan gempa yang terlalu hebat. Ketika orang-orang berkumpul di jalanan komplek, terlihat berbagai ekspresi ketakutan bahkan ada orang yang wajahnya berlumuran darah akibat tertimpa lemari.

Tak lama kemudian sekitar 15 menit guncangan keras datang lagi, dengan kekuatan yang hampir sama. Sampai memasuki waktu maghrib ( 18:00), gempa susulan muncul beberapa kali tapi tak sekuat yang sebelumnya. Di tengah kepanikan itu, warga komplek yang berkumpul mulai mencari informasi gempa dan menghubungi keluarga/kerabat-kerabatnya. Tetapi saat itu jaringan telpon untuk regional Sulawesi tengah sudah terputus.

“Bagaimana ini kita mengungsi dimana sudah?” kata salah seorang warga  yang kebetulan berdiri disampingku.

“Pokoknya jangan ada yang masuk rumah dan ba jauh memang dari bangunan yang mau roboh, kita ba kumpul di lapangan untuk sementara ini,” jawab seorang tokoh masyarakat yang biasa disapa Opa.

Mendengar intruksi itu semua masyarakat langsung berkumpul di lapangan dengan perlengkapan seadanya untuk mengungsi dan mendirikan tenda. Semua cerita ketakutan dan tangisan ibu-ibu terus terdengar. Gempa-gempa susulan yang masih terus mengguncang. Kemudian bertambah lagi suasana mencekam itu dengan datangnya seorang warga yang berkata, “Petobo parah, air naik dari permukaan tanah, aspal bergelombang dan terbelah, perumahan roboh semua.”

Dengan perasaan was-was karena berita baru itu, di tempat pengungsian saya terus terpikir adik saya. Terakhir kontak dengannya sebelum sholat Jum’at. Duduk tenang sambil berpikir,”Bagaimana caranya saya harus tau keadaannya sekarang?”

Saya kebingungan bagaimana cara keluar mencari adik saya. Keadaan gelap gulita dan orang-orang sekitar saya mencegah saya pergi. “Jangan dulu ke mana-mana malam ini. Berdoa saja semoga adikmu tidak apa-apa. Besok pagi baru kita sama-sama cari,” kata seorang di dekat saya.

Dengan keresahan itu, saya berusaha keluar dari kumpulan orang-orang. Saya mencari cara apapun agar bisa pergi mencari adik saya. Beralasan mencari informasi, saya keluar dari komplek, berjalan kaki hingga Jl. Dewi Sartika. Banyak warga yang saya jumpati tidur di tepi jalan. Bahkan ada yang menggelar tikar di jalan aspal. Tak jelas arah tujuan saya malam itu.

Pagi tiba. Seorang remaja memberitahu saya terjadi tsunami di pesisir pantai. Dia memperlihatkan video amatir ombak besar menghantam pesisir pantai kota Palu. Semuanya habis tersapu ombak, termasuk kubuh masjid di mall. Di samping mall itu, letak kampus adik saya, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu. Tanpa pikir panjang, saya langsung menggunakan motor yang parkir di depan saya bersama dengan kunci kontaknya. Memang banyak motor yang hari itu ditinggalkan pemiliknya dan terparkir begitu saja di jalanan.

Dalam perjalanan, saya bertemu dengan aspal retak bergelombang, tiang-tiang listrik yang miring, serta rumah dan bangunan bertingkat yang retak sana-sini bahkan rubuh. Jalanan terlihat sangat berantakan. Orang-orang berkerumun di warung-warung mencari bensin. Setelah empat jam berkeliling kota Palu, akhirnya saya bertemu dengan adik saya. Dia mengungsi di bukit taman pengajian Habieb Shaleh.

Tulisan yang dimuat pada kategori BLOG menjadi tanggung jawab penulis.

One Comment

Berkomentar